coba kita mengkrtisi satu hal , benarkah kalo kita sebagai manusia ini benar percaya kepada Tuhan atau ‘hanya’ mengikuti agama? Itu sebuah pernyataan yang berbeda kalau kita benar-benar mencermati.
Televisi sudah sering menayangkan berita salah satu kelompok yang mengaku membela kepentingan tuhan dengan tindakan anarkis, bukankah itu ironis? sekelompok manusia (cuma manusia) membela tuhan, apakah tuhan tidak cukup kuat sehingga harus dibela? Tuhan itu dengan menjentikan jari, dan BOOM! dunia bisa saja kiamat.
Kadang kita itu (manusia), terlalu berpikir konseptual, dan cendrung dogmatis dalam hal ini yaitu religiusitas, secara kasarnya kita dipaksa memilih menjadi penganut agama yang dianut orangtua kita, tidak ada yang salah dengan itu, tapi bagaimana bila kita memilih apa yang kita percaya sendiri nantinya? bukankah tujuan beragama itu pada akhirnya bagaimana cara kita menemukan Tuhan? akan banyak pertentangan dalam segi sosial interen dalam hal memilih kepercayaan sendiri tersebut.
Secara tidak sadar paradigma tentang keagamaan, telah berputar tanpa kita sadari, dan kita sendiri yang mengawali. Ketika agama hanya menjadi simbol atau status, kadang agama menjadi tameng atas kelakuan yang tidak rasional, dan parahnya agama menjadi komoditas (acara televisi pada bulan tertentu atau band musik mainstream membuat single atau album pada bulan tertentu). Manusia cendrung beragama dengan upacara-upacara keagaman yang bersifat seremonial dari pada penerapan kearah horizontal.
Ahh.. sudahlah agama memang terlalu sensitif untuk dibicarakan dan saya takut bila kata-kata saya akan menskeptiskan salah satu pihak. SEKIAN!